Dari Mahasiswi Biasa ke Panggung Nasional: Kisah Clarissa Paramita Lolos PIMNAS Lewat Inovasi “FOXICORE”
Penulis: Danishwara, Michael Jhoncary - 18 Maret 2026
Kabar membanggakan datang dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomasi Industri dan Robotika (PTOIR). Salah satu mahasiswi angkatan 2023, Clarissa Paramita, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan lolos hingga ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dalam tim PKM yang diikutinya, Clarissa berperan sebagai data manager sejak tahap awal hingga proses PKP (Penilaian Kemajuan Pelaksanaan) internal dan eksternal. Saat memasuki tahap PIMNAS, ia dipercaya menjadi presenter, sebuah peran krusial yang menentukan bagaimana ide tim dapat dipahami oleh dewan juri.
Tim Clarissa mengusung skema PKM-KC (Karsa Cipta) dengan judul inovatif:
“FOXICORE: Alat Pendeteksi Bahan Toxic, Non-Halal, dan Zat Alergi pada Makanan Berbasis AI.”
Ide ini lahir dari keresahan terhadap maraknya isu keracunan makanan dan kebutuhan masyarakat akan keamanan konsumsi pangan, menjadikannya relevan dan memiliki urgensi tinggi. Menariknya, Clarissa tidak terlibat sejak awal pembentukan tim. Tim ini pertama kali digagas oleh dua mahasiswa PTOIR angkatan 2022, yang kemudian mengajak anggota lain dari lintas program studi, yaitu Kimia dan Desain Komunikasi Visual. Clarissa sendiri bergabung untuk melengkapi kebutuhan tim, khususnya dalam pengelolaan data dan kemampuan public speaking.
Meski ini merupakan pengalaman kompetisi pertamanya, Clarissa langsung mencatatkan pencapaian luar biasa dengan menembus PIMNAS. Proses yang dilalui tidaklah singkat, dimulai dari seleksi internal fakultas, seleksi universitas, hingga tahap pendanaan. Setelah itu, tim diberi waktu sekitar 3–4 bulan untuk merealisasikan prototype alat, dilanjutkan dengan presentasi pada PKP internal dan eksternal sebelum akhirnya diseleksi menuju PIMNAS.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi, terutama dalam hal komunikasi tim. Kesibukan masing-masing anggota, keterbatasan waktu, hingga kendala koordinasi sempat memicu konflik internal. Bahkan, beberapa anggota kesulitan berpartisipasi secara penuh. Namun, situasi ini justru menjadi titik balik bagi tim untuk memperkuat komitmen. Dengan semangat sebagai satu-satunya tim dari kampus yang lolos ke PIMNAS, mereka memilih untuk tetap solid dan menyelesaikan tanggung jawab bersama.
Momen pengumuman kelolosan ke PIMNAS menjadi kejutan besar bagi tim. Tidak ada ekspektasi tinggi sebelumnya, bahkan mereka sempat melewatkan momen pengumuman tersebut. Reaksi yang muncul pun beragam, mulai dari rasa tidak percaya hingga kebingungan karena bentroknya jadwal dengan agenda lain.
Menurut Clarissa, salah satu faktor utama keberhasilan mereka adalah pemilihan tema yang relevan dan sedang hangat diperbincangkan. Isu keamanan makanan yang mereka angkat dinilai memiliki urgensi tinggi, sehingga memberikan nilai lebih di mata penilai. Dari pengalaman ini, Clarissa mengambil banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah tidak perlu takut bersaing dengan universitas besar. Ia menyadari bahwa setiap tim memiliki peluang yang sama untuk berhasil, selama memiliki ide yang kuat dan eksekusi yang matang.
Selain itu, berbagai keterampilan juga berkembang pesat, terutama dalam hal public speaking dan manajemen waktu. Pada tahap PIMNAS, presentasi harus dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas, yaitu 10 menit, tanpa boleh kurang atau lebih. Hal ini melatih ketepatan, kejelasan penyampaian, serta kepercayaan diri di depan juri dan peserta dari berbagai universitas.
Peran lingkungan kampus dan himpunan juga tidak dapat diabaikan. Clarissa mengakui bahwa relasi yang ia bangun selama aktif di himpunan, khususnya saat menjabat sebagai staf Hubungan Eksternal HME, membuka jalan baginya untuk bergabung dalam tim ini. Hal ini menjadi bukti bahwa keterlibatan organisasi dapat memberikan dampak nyata terhadap peluang akademik.
Di akhir wawancara, Clarissa menyampaikan pesan inspiratif bagi mahasiswa lain:
"Jangan ragu untuk ikut PKM, karena banyak banget keuntungan yang akan kalian dapat, kalian akan dihimpun oleh universitas, kebutuhan kita dipenuhi semua bahkan tidak mengeluarkan uang sedikit pun, saat PIMNAS-nya juga kita bisa jalan-jalan, dapat transportasi gratis, hotel gratis, dan juga kita dapat pengalaman dan sertifikat." tutur Clarissa
Sebagai penutup, ia juga membagikan tips sederhana namun krusial:
pastikan proposal PKM benar-benar sesuai dengan pedoman. Tidak boleh ada bagian yang melenceng, karena ketepatan terhadap aturan menjadi salah satu kunci utama dalam lolos seleksi. Kisah Clarissa Paramita menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba, kemampuan beradaptasi, dan kekuatan kerja tim mampu membawa mahasiswa melangkah lebih jauh, bahkan hingga panggung nasional.
ELEKTRO!!!
SPEKTRUM SPEKTRUM SPEKTRUM!!!